RUMAH ADAT DAERAH BANTEN
RUMAH SULAH NYANDA
Struktur Rumah Sulah Nyanda
Dilihat dari segi struktur bangunannya, material dari rumah adat
Provinsi Banten ini secara keseluruhan terbuat dari bahan dasar yang
berasal dari alam. Bambu menjadi bahan utama di dalam proses pendirian
rumah adat sulah nyanda ini, sementara batu, kayu, dan juga ijuk menjadi
pelengkapnya. Batu dipakai sebagai alas pondasi. Batu yang digunakan yaitu batu datar
yang berukuran besar sehingga bisa dipendam di dalam tanah. Batu yang
umumnya diperoleh dari kali ini berfungsi mencegah tiang rumah supaya
tidak cepat melapuk. Untuk diketahui, bahwa kayu tiang rumah akan mudah
keropos jika langsung bersentuhan dengan tanah.
Pemasangan pondasi pada rumah adat Provinsi Banten tidak dilakukan dengan cara merusak struktur tanah. Jika tanah tempat dibangunnya rumah mempunyai kontur miring, maka pondasi juga menyesuaikan. Hal tersebutlah yang membuat tinggi dari tiang penyangga rumah adat ini tidak dapat disamakan. Tiang rumah sulah nyanda sendiri berasal dari balok kayu berukuran besar. Kayu yang dipakai untuk tiang haruslah kayu yang sangat kuat dan tahan lama, seperti kayu jati, mahoni, ataupun kayu akasia. Kayu yang kuat pada tiang tentunya sangat diperlukan guna ketahanan rumah, sebab tiang merupakan tempat menopangnya kerangka atap sekaligus juga kerangka lantai.
Pemasangan pondasi pada rumah adat Provinsi Banten tidak dilakukan dengan cara merusak struktur tanah. Jika tanah tempat dibangunnya rumah mempunyai kontur miring, maka pondasi juga menyesuaikan. Hal tersebutlah yang membuat tinggi dari tiang penyangga rumah adat ini tidak dapat disamakan. Tiang rumah sulah nyanda sendiri berasal dari balok kayu berukuran besar. Kayu yang dipakai untuk tiang haruslah kayu yang sangat kuat dan tahan lama, seperti kayu jati, mahoni, ataupun kayu akasia. Kayu yang kuat pada tiang tentunya sangat diperlukan guna ketahanan rumah, sebab tiang merupakan tempat menopangnya kerangka atap sekaligus juga kerangka lantai.
Untuk bagian dinding, rumah adat ini biasanya memakai anyaman bambu yang
disebut dengan bilik. Penggunaan bilik ini memberikan kesejukan bagi
para penghuni rumah karena sirkulasi udara bisa dengan mudah masuk dan
keluar melalui celah anyaman. Hal inilah yang menyebabkan mengapa rumah
adat Provinsi Banten ini tidak mempunyai jendela. Sementara bagian
lantainya memakai bilah-bilah papan yang disusun secara sejajar atau
memakai bambu yang telah dibuat menjadi datar (palupuh).
Pada bagian atap rumah ini memakai bilah bambu dan ijuk. Bilah bambu dipakai sebagai kerangka atap, sementara ijuk dipakai sebagai atapnya. Ijuk juga bisa diganti dengan bahan daun alang-alang yang sudah dianyam.
Pada bagian atap rumah ini memakai bilah bambu dan ijuk. Bilah bambu dipakai sebagai kerangka atap, sementara ijuk dipakai sebagai atapnya. Ijuk juga bisa diganti dengan bahan daun alang-alang yang sudah dianyam.
Pembagian Ruangan Rumah Sulah Nyanda
Rumah adat provinsi Banten ini dari dahulu sampai saat ini masih tetap
digunakan sebagai desain utama hunian bagi masyarakat suku Baduy di
Banten Barat. Dalam menunjang fungsinya tersebut, rumah khas Provinsi
Banten tersebut dibagi menjadi beberapa ruangan, yakni sosoro (depan),
tepas (tengah), dan juga ipah (belakang).
- Sosoro, ruangan ini letaknya dibagian depan rumah. Di dalam bahasa Indonesia bisa juga disebut teras. Pada bagian ini digunakan untuk menerima para tamu, tempat bersantai, sekaligus juga tempat beraktivitas para perempuan ketika di pagi hari, seperti menenun.
- Tepas, ruangan ini dipakai untuk pertemuan keluarga, bersantai, kenduri, dan tidur di malam hari.
- Ipah, ruangan ini letaknya berada dibagian belakang dan digunakan sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam persediaan makanan sekaligus juga tempat memasak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar